Garda Media – BEM USU menyampaikan kekecewaannya atas kembali tidak dilibatkannya unsur mahasiswa dalam proses pemilihan Rektor USU periode 2026-2031. Proses ini tidak partisipatif dan mengabaikan suara penting dari salah satu elemen utama kampus: mahasiswa.
Mahasiswa Tak Diwakili di MWA
Wakil Ketua BEM USU, M. Thoibul Fattah, menilai ketiadaan perwakilan mahasiswa di Majelis Wali Amanat (MWA) sebagai bentuk pengabaian terhadap suara mahasiswa. Menurutnya, absennya keterlibatan mahasiswa melemahkan proses demokratis dalam penentuan pemimpin tertinggi di lingkungan kampus.
“Baca Juga: Keracunan Massal Siswa, Apa yang Salah dari Menu Ikan Hiu MBG?”
Thoibul menegaskan bahwa mahasiswa berhak menyuarakan pandangan serta berpartisipasi aktif dalam menentukan arah masa depan kampus, terutama dalam proses seleksi rektor yang sangat menentukan kebijakan lima tahun ke depan.
Kawal Ketat Proses Pemilihan Rektor
Meski tidak terlibat secara struktural, BEM USU menegaskan komitmennya untuk terus mengawal seluruh tahapan pemilihan. Mereka berencana melakukan kajian kritis terhadap visi-misi masing-masing calon rektor yang telah masuk dalam tiga besar pilihan Senat Akademik.
“Kami akan tetap mengawasi proses ini sampai tuntas. Karena sejatinya, kami sebagai mahasiswa berhak dan layak memberikan pandangan serta penilaian terhadap calon rektor yang akan memimpin kampus ini,” tegasnya.
Harapan Bagi Rektor Terpilih
Mengenai tiga kandidat yang kini sedang berproses menuju pemilihan final, Thoibul berharap siapapun yang terpilih nantinya dapat memberikan perhatian serius terhadap kesejahteraan mahasiswa.
Menurutnya, kesejahteraan bukan hanya soal fasilitas akademik yang merata, tapi juga terkait kebebasan berpendapat, ruang kreatif, dukungan terhadap organisasi kemahasiswaan, dan kebijakan kampus yang berpihak pada pengembangan potensi mahasiswa.
“Kita berharap rektor yang terpilih mendukung penuh aktivitas mahasiswa, baik di ranah akademik maupun dalam hal membangun ruang ekspresi, seni, dan kreativitas di dalam kampus USU,” jelasnya.
Desakan untuk Demokratisasi Kampus
BEM USU juga menekankan pentingnya mendorong demokratisasi kampus yang lebih luas. Hal ini termasuk membuka ruang partisipasi bagi mahasiswa dalam pengambilan keputusan strategis. Mereka menyerukan agar ke depan, struktur seperti MWA lebih inklusif dan merepresentasikan seluruh unsur sivitas akademika, bukan hanya dosen dan birokrasi kampus.
Mahasiswa USU berharap proses pemilihan rektor ini menjadi momentum refleksi agar sistem tata kelola perguruan tinggi lebih terbuka, adil, dan berpihak pada kebutuhan nyata civitas kampus.
“Simak Juga: Terkontaminasi Serpihan Kayu, Sosis Tusuk dan Corn Dog di AS Resmi Ditarik dari Pasaran”
Informasi ini bersumber dari mistar.id. BEM USU menyampaikan kekecewaannya atas kembali tidak dilibatkannya unsur mahasiswa dalam proses pemilihan Rektor USU periode 2026-2031. Simak pembahasan lengkapnya di GardaMedia.
|Penulis: Lukman Azhari
|Editor: Anna Hidayat