Sinergi PMKI USU-USK: Implementasi Smart Farming IoT di Pesantren Al Kautsar
Garda Media – Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2025 dilaksanakan oleh USU-USK di Pesantren Al Kautsar Al Akbar, Medan pada 6 Agustus 2025. Tim pengabdi terdiri dari akademisi lintas disiplin seperti Amelia Zuliyanti Siregar, M.Sc, Ph.D (Koordinator), Prof. Zulkifli Nasution, Dr. Meuthia Nauly, Ir. Netti Herlina, dan Syafruddin Hasibuan.
Kegiatan PMKI USU-USK disambut hangat oleh pihak pesantren seperti TiRodiah Marbun, M.Pd, serta guru dan kepala sekolah lainnya.
Menurut Dr. Meuthia Nauly, santri yang akan mengikuti program berkebun organik dipilih berdasarkan minat yang diukur melalui kuesioner berbasis Kuder Preference Inventory. Hasil seleksi digunakan untuk menentukan santri yang akan mendapat pendampingan materi dan pelatihan.
“Simak Juga: Hadaka Matsuri, Festival Telanjang Penuh Keberanian di Jepang”
Kegiatan ini bukan sekadar aktivitas fisik, tapi juga bagian dari pendidikan karakter dan kesejahteraan emosional santri. Rasa diterima dan dihargai di lingkungan belajar terbukti meningkatkan keterlibatan positif dan menekan perilaku negatif.
Dalam sambutannya, Amelia Siregar menekankan pentingnya pertanian sebagai sektor vital, khususnya bagi pesantren yang memiliki keterbatasan sumber daya seperti air dan listrik. Oleh karena itu, tim pengabdi memperkenalkan teknologi Smart Farming berbasis Internet of Things (IoT).
Teknologi ini mencakup irigasi otomatis, sistem pemupukan berbasis sensor, pembuatan eco-enzym dari limbah organik, hingga penggunaan stasiun cuaca mini dan alat pengendalian hama.
Menurut Syafruddin Hasibuan, penerapan IoT seperti sensor suhu, kelembaban, dan pH tanah memungkinkan sistem pertanian berjalan otomatis dan efisien, meningkatkan produktivitas hingga 70% pada tahun 2050.
Konsep eco-pesantren menjadi kerangka pengembangan pertanian berkelanjutan di lingkungan religius. Santri tidak hanya memperoleh keterampilan pertanian modern, tetapi juga berkontribusi dalam membangun sistem pangan mandiri dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Pesantren Al Kautsar Medan kini juga mulai menggunakan sistem fertigasi. Di mana pupuk cair didistribusikan secara otomatis melalui irigasi, dikendalikan oleh sensor nutrisi dan EC (Electrical Conductivity).
Program PMKI 2025 dilakukan melalui beberapa tahap: sosialisasi, pelatihan, survei minat, praktik berkebun, pembuatan eco-enzym, hingga evaluasi. Indikator keberhasilannya adalah jumlah santri aktif, peningkatan skor sense of belonging, dan terbentuknya komunitas berkebun berkelanjutan.
Menurut Zulkifli Nasution, keberhasilan program ini akan terlihat dari penerapan teknologi pertanian secara jangka panjang di lingkungan pesantren. Selain itu, program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Tujuan kami adalah membentuk pesantren mandiri yang mampu mengelola sumber dayanya secara cerdas, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” pungkas Amelia Siregar.
“Baca Juga: Skorbut dan Petechiae di Rongga Mulut, Ketika Kekurangan Vitamin C Menjadi Serius”
Garda Media - Data terbaru dari Unit Kesehatan Mahasiswa (UKM) menunjukkan bahwa angka kunjungan siswa yang melaporkan gejala kelelahan akademik…
Garda Media - Menyusuri jejak karya gemilang di tanah Sumatera, Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil membukukan setidaknya 157 penghargaan tingkat…
Garda Media, Medan - Tren pendaftaran beasiswa di Universitas Sumatera Utara menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 25% pada tahun ajaran 2023/2024…
Garda Media - Data internal yang berhasil kami rangkum menunjukkan fenomena menarik di lingkungan Universitas Sumatera Utara, di mana mahasiswa…
Gardamedia USU - Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) kembali menorehkan catatan penting dalam peta inovasi kesehatan nasional. Di…
Gardamedia USU - Universitas Sumatera Utara (USU) kembali mencatatkan tinta emas dalam lanskap pendidikan tinggi Indonesia: sepanjang 2024, lebih dari…
This website uses cookies.